My Life Support

Life supports
There is a friend asking to me, apa yg menjadi support dalam kehidupan kamu?

Hmmm kalo ditanya apa ya pada dasarnya sih simple, ya agama, aturan agama dan hal di dalamnya. Oke kalau gitu siapa yg menjadi support kehidupan nya?. Oke, kalau ditanya untuk sekarang siapa sebenernya saudara dalam arti adik dan kakak kandungku, tapi adik lebih penting lah hehe. Tapi pada dasarnya ada hal yang lebih penting atau bisa dibilang bisa menjadi sangat penting dalam kehidupanku, yaitu seseorang yg kusayang, cinta kali ya lebih lebih tepat nya. Kenapa? Jadi gini, pada awalnya aku ini anak yg manja terutama sama ibuku, apaapa ibu apapapa ibu sampai saya banget sama ibu deh pokoknya, hihi :). Sampai pada saat nya dimana aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus kehilangan dia selamanya :(. Disitu hidupku merasa hampa, aku merasa tujuan hidupku untuk bahagian ibuku hilang gitu aja, gada tujuan lain. Tapi disitu ibu berpesan atau nitip kali ya untuk jagain adik kakak ku, itukah sebab adik kakak ku menjadi hal yg penting buatku. Memang adik dan kakaku adalah hal sangat penting dan merupakan salah satu alasan aku untuk berjuan dalam kehidupan ini. Namun aku butuh namanya kasih sayang dan meluapkan rasa sayang....

Berdasarkan history ( tidak diceritakan disini ) dan kondisi yang kualami. My life support adalah seseorang yg kuakui sebagai pendamping masa depanku.
"oke, i like you | i want you"
tapi lebih kearah
"oh, this is what I'm looking for | one day, i'll get you | this is my objective | you'll be mine |
Aku memerlukan seseorang yg menjadi alasanku untuk "kenapasih gua harus kerja keras, harus mikir, harus targetin gini gitu, kenapa gua umur segini harus gini, kenapa tahun segini gua harus gitu". i have nobody to love or be loved, to share story, to be the reason why i should do this and that anymore.
so i decided to choose someone to be my reason, walaupun hanya secara sepihak dimana orang tersebut pun ga sadar akan hal itu.
Mungkin pacar adalah bahasa yg umum, namun tidak dalam kehidupanku. Aku tidak memilih pacaran tapi kearah komitmen, kenapa? Karena orang yg kusayang bukan kuanggap hanya sembarang, namun kuanggap bahwa dialah yg akan menjadi pendamping hidupku. Sosok yang kusayang ini akan menjadi sosok yg sangat penting bagi hidupku, dialah yg akan menjadi alasanku untuk berjuan dalam melanjutkan hidup, dialah tempat aku menumpahkan semua rasa kasih dan cintaku. Aku selalu menempatkan seluruh harapanku padanya dan membuatnya menjadi bagian dari kehidupanku. Apapun yang dilakukannya dapat mempengaruhi hidupku yang dapat membuatku bangkit ataupun terjatuh.

Sedikit cerita tambahan tentang my life support ku saat inu. Setelah diriku dikhianati oleh seseorang yg telah kuanggap sebagai my life support, aku menikmati kebahagiaan sebagaimana pada dasaenya adik dan kakaku sebagai alasanku untuk tetap hidup. Waktu berlalu hingga aku melihat dirinya sebut saja bulan. Bulan adalah sosok yg pernah hadir dalam cerita cintaku dulu. Aku yang tidak ingin berpacaran dan lebih memilih komitmen   sebagai langkah dewasa memutuskan untuk mendekati bulan secara perlahan, berfikir untuk tetap menjaga komunikasi hingga saat nya nanti aku akan langsung membawanya ke pelaminan ( harapan semua pria ). Berfikir bahwa disini hanya aku yg menginkannya, komunikasi tetap berjalan mulus sesuai dengan skenario, hingga pada suatu saat aku menemukan sesuatu yg membuatku berfikir bahwa ternyata dia juga masih memiliki perasaan yg sama dengaku. Karena hal tersebut akhirnya pikiran ini tenggelam dalam kesenangan dan kebahagiaan karena ternyata kita sama sama saling tertarik dan membuatku meletakan semua harapanku kepadanya. Seiring waktu berlalu aku berfikir, jika memang bulan memiliki perasaan yang sama denganku, "apakah dia menanti action ku dalam waktu dekat?" Hal ini membuat diriku memposisikan diri jika menjadi dirinya dan dalam kondisi menunggu action dari sang pria. Setelah tenggelam dalam pemikiran aku berfikir bahwa jika aku menjadi dirinya dan menunggu action dariku tapi tak kunjung datang maka sebagai dia ( bulan ) aku akan merasakan sakit hati karena berharap terlalu besar kepadaku. Jika ini terus berlanjut dan dia benar berfikir seperti itu dan merasakan sakit hati dan memutuskan untuk mundur dariku, aku pun akan merasakan sakit hati yang mendalam. Jika hal itu terjadi maka akan ada 2 orang yg bersedih.

Setelah berfikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk bagaimana dia tau bahwa "i love you, tapi aku ingin berkomitmen dan bukan berpacaran" dan aku tidak bisa menjadi hubungan ke tingkat yg lebih jauh saat ini karena aku merasa derajatmu lebih tinggi dariku, dan aku punya pengalaman yg buruk bersama dengan orang yg memiliki derajat atau kasta lebih tinggi dariku. Jika memang berakhir di pelaminan aku ingin memberitahu padamu bahwa pernikahan bukan menyatukan 2 insan saja, namun pernikahan merupakan suatu momen yang menyatukan antara 2 kerluarga berbeda. Untuk saat ini aku belum bisa menjadi hubungan ke tingkat lebih tinggi, aku perlu waktu untuk setidaknya setara denganmu untukku berani bertemu denganmu. Aku malu dengan kondisiku saat ini. Berikanlah aku waktu untuk merubah diriku terlebih dahulu.

Dengan keputusanku tersebut aku siap menerima risiko apapun meski dalam perjalanan ( sebelum derajatmu sama dan aku berani bertemu dengamu ) kamu meninggalkanku begitu saja. Aku lebih memilih kamu tau dan membuat keputusanmu sendiri, setidaknya jika ini terjadi hanya 1 orang yg sedih dan tersakiti dan sedih. Aku punya prinsip untuk sebisa mungkin tidak membuat perempuan bersedih. Aku sangat bersyukur bahwa kamu tinggal di negeri nan jauh disana selama 2 tahun kedepan. Aku merasa bahwa ini adalah waktuku untuk berkembah setidaknya sampai ke tingkat setara dengamu, dengan begitu saat dirimu kembali aku memiliki setidaknya keberanian bertemu denganmu.

Pada awal nya setelah aku merasa kamu memiliki perasaan yg sama denganku, disitu aku meletakan seluruh harapanku padamu. Namun dengan keputusanku untuk membuatmu daoa memilih keputusan sendiri memaksaku untuk menarik kembali harapanku. Jika kamu tau seperti apa rasanya menarik kembali harapan penuh yang telah kuletakan pada dirimu secara paksa, itu terasa seperti aku kehilangan my life support ku yg membuatku tetap ingin melanjutkan hidup. Jika kamu membaca ini, aku harap kamu dapat setidaknya membuatku tau apa keputusanmu saat ini walaupun nanti akan berbeda :')
Repost from : https://beruangsenja.blogspot.com/2019/08/life-support.html


Komentar